Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

Setelah PULANG



Terima kasih Leila, kau tenggelamkan aku dalam kata-kata, kalimat, dan klausamu. Air mata itu tak bisa ditahan jika memang mereka memaksa menyeruak menembus batas bening bola mata.


Ini kali pertama bagiku untuk menulis sebuah resensi, review, komentar atau entah apa namanya pada sebuah buku. Meskipun sudah kubaca berbagai buku fiksi, tapi entah, Leila, hanya kau yang membuatku tenggelam, benar-benar tenggelam. PULANG, novel yang tidak tipis, yang aku cita-citakan untuk kubaca sejak pertama membaca ‘Malam Terakhir’ yang kucuri dari perpustakaan, akhirnya dapat kumiliki dan kuselami. Aku pesimis pada kegiatan membaca novel (karena tidak pernah selesai), tapi penulis PULANG adalah Leila S. Chudori, yang membuaku tidak bisa lepas dari huruf-huruf yang tersusun dalam 450 halaman selesai dalam 6 hari (terdengar hiperbolik, maaf, tapi bagiku yang seorang amatir dalam hal membaca novel, ini adalah prestasi). Mereka benar, kau tidak hanya sekedar bercerita, akan tetapi kau berikan sebuah arena atau ruang bagi pembaca untuk turut serta dalam serangkaikan peristiwa, Indonesia 1965 (yang saat ini benar-benar menjadi sebuah isu diantara puluhan pengalih isu di media, yang membuatku menghadapi 2 mata pisau atas keputusanku menjadi seorang calon guru), Prancis 1968 (yang baru kuketahui), dan titik tolak reformasi Indonesia, Mei 1998 (yang menjadi bagian dari cerita sehari-hariku dengan orang tuaku). Kau benar-benar membuat perasaan pembaca (yang merasakan) naik turun. Seperti setelah membaca surat dari Surti yang menusuk dengan menyakitkan, kau beri surat Bang Amir yang seperti memberi sebuah cahaya. Dimas Suryo yang kau nobatkan sebagai seekor camar yang tak tahu kapan hinggap, seperti menjadi cerminan diriku, yang sampai saat ini tak memiliki prinsip yang pasti (atau mungkin ini memang sebuah prinsip untuk tidak memiliki prinsip?), terombang-ambing, mengikuti arus nasib. Berkat kau mataku lebih terbuka dan otakku semakin tidak tahu kapan berhenti berpikir. Meski ada sesal, “mengapa aku harus mengetahui?”

Seperti yang kutulis sebelumnya, ini kali pertama aku menulis sebuah entah apa namanya setelah membaca sebuah buku. Aku tak bisa berpanjang lebar, aku tak pandai berkomentar dalam bentuk tulisan, akan tetapi hatiku memaksa untuk menulis, entah bagaimana hasilnya. Bukan untuk pamer, bukan untuk menunjukkan apa-apa, sulit dijelaskan alasannya. Untuk sementara (semoga tidak), kau adalah penulis yang benar-benar merenggutku dalam dunia fiksi. Karenamu, aku jatuh cinta pada sastra. Semoga tulisan ini memiliki makna, dan kuakhiri tulisan ini dengan mengutip bagian kecil dari PULANG:

“Mengapa benda mati disebut sesuatu yang mati? Terkadang mereka lebih ‘hidup’ dan lebih jujur memberikan saksi”

Sabtu, 01 Desember 2012

Berbahagialah orang orang yang merasa cukup

Pernah diri digandrungi gelisah. Hanya duga duga dan kebingungan jadi isi kepala. Pikiran terus mencari ini itu, yang tak tentu benar salahnya.
Pernah diri ini digandrungi rasa tidak puas. Ingin ini ingin itu, seperti yang dihadap kurang.
Memang sifat diri manusia tidak pernah puas, tapi bukankah ketidak puasan membawa kegelisahan, jika yang dikejar tak kunjung ditemukan.
Memang mengejar itu perlu, tapi bukankah jika mengejar akan ada yang tertinggal, dan kita menjadi tak peduli dengan sekitar?
Jika sekitarmu sudah kau tinggalkan, kau hanya sendiri.
Bukankah manusia membutuhkan manusia yang lain.

Maka,
Nikmatilah hidupmu
Syukurilah nikmat

Ketentraman hati itu akan muncul ketika merasa cukup.
Ketentraman hati membawa kebahagiaan.
Berbahagialah orang orang yang merasa cukup.

sekian

Sabtu, 29 September 2012

Untuk dirimu yang sudah 33 tahun

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah"
 Soe Hoek Gie - Mandalawangi – Pangrango

Yang di atas adalah kutipan dari salah satu puisi Gie yang berjudul Mandalangwangi Pangrango. Saya di sini tidak akan membahas beliau, tapi tulisan saya disini adalah bentuk rasa terima kasih saya pada Vachera, organisasi pecinta alam SMA N 2 Yogyakarta yang pada kesempatan kali ini berumur 33 tahun. Mengapa saya mengutip puisi diatas?

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya...."
33 tahun sudah Vachera mendidik anggotanya untuk berani menghadapi suatu permasalahan, entah itu ketika di gunung, di pantai, di rumah, di sekolah, dll. Dan saya merasakanya :

---Rapeling Perdana Vachera 32---
Sempat ragu untuk ikut, sempat beralasan yang macam macam. Tapi, ada gejolak rasa penasaran tersendiri di pikiran, "Rapeling?". Kata kakak kelas sih turun dari jembatan. Jembatan babarsari itu tingginya hampir 20m lebih, dan bayangkan nyawamu di gantung pada sebuah tali yang dikaitkan pada badanmu dengan carabiner, figur 8 dan harnest/webbing. Keberanian, ya keberanian adalah yang pertama harus dipersiapkan, tapi kalau sekedar berani tanpa didasari ilmu itu sama saja.
Kakak kakak kelas mengajari kami:
"Ngene lo carane nganggo webbing, ngene lo carane masang carabiner, ngene lo carane masang figur 8, ngene lo carane medun"
Akhirnya kami tahu caranya, kami yakin benar dan kami laksanakan. Jika sudah berani dan yakin,
"Sip ! Ngono lo, rapeling sing bener"

 "...tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah"
Alam, tak pasti, relative, syukur.  Kata- kata tersirat yang saya tangkap dari kutipan di atas. Kemampuan seseorang tidak bisa diukur dari segudang ilmu di otaknya, tapi bagaimana ilmu tersebut dapat berguna di kehidupanya. Alam menurut saya bersifat relatif, dapat diprediksi tapi hanya mengira-ngira. Namun, kita tidak boleh pasrah dan putus asa dalam menghadai cobaan dari alam.
Dan disini VACHERA berperan dalam memberikan pendidikan karakter untuk menghadapi cobaan-cobaan tersebut. Vachera mendidik kami untuk tidak panik, berpikir jernih meski di bawah tekanan, meskipun sampai saat ini saya masih kurang dalam mengendalikan pikiran dan emosi. Namun saya bisa merasakan pengaruhnya :

---Pendakian Gn. Sumbing---
Bekal sudah menipis, sementara waktu menunjukan pukul 18.30, kami masih di pos Pasar Setan. Ini adalah sebuah kesalahan manajemen perbekalan dan manajemen waktu. Tapi kami harus tetap tenang dan tidak panik. Namun kepanikan itu akhirnya datang, kami berselisih :
X   :   "Pie? Meh medun po ngecamp sik?"
Y   :   "Aku pengene medun saiki mbuh pie carane"
Z    :   "Tapi bukane baterene adewe wis do meh entek yo?"
X   :    "Iyo sih tapi nek ora gek medun bekale adewe yo bakal kurang"
Y    :    "Ho'o tho mendingan medun wae"
X   :    "Tapi bahaya lo medun wengi wengi, fisike adewe yo wis kesel, adewe ra iso nek langsung bablas basecamp."
Y   :    "Njuk terus pie?
Z    :    "Aku usul pie nek adewe ngecamp wae ning pos 2, terus perjalanan seko kene tekan pos 2 bekal sing adewe gowo dihemat sehemat mungkin. Ki ! sak botol 1,5L aqua nggo ngombe adewe wong 15 tekan pos 2. Terus adewe kan isih due mi. Nah mi kui nggo ransum seko pos 2 tekan basecamp, adewe mau rak wis mangan tho ning watu kothak.
X    :    "iso wi, aku setuju, aku yo mikir bahayane midun seko kene tekan basecamp padalo wis petengan ngene iki, gek ngerti dewe medane koyo ngopo.
Z    :     "Nek ngono, aku yo setuju, mending telat mulih mbangane ra mulih.

Kira kira seperti itu percakapanya. Mungkin seperti dibumbui tapi semoga cukup menggambarkan keadaan saat itu. Dengan gontai dan meraba raba kami turun menuju pos 2. Alhamdulillah kami selamat dan sampai di pos 2 kira-kira pukul 11 malam. Dan benar saja, "tenda berdiri, tidur pulas."


Dari uraian di atas saya menarik kesimpulan :

Vachera mendidik anggotanya dengan berdasar pada Pendidikan Karakter. Mendidik anggotanya agar memiliki karakter yang berani, berwawasan, bijaksana, dan peduli.

Sekian dari saya, jika mungkin banyak salah kata, saya mohon maaf.
SELAMAT ULANG TAHUN VACHERA !
VACHERAAA !! UHUUUY !!


Rabu, 16 November 2011

Pelajaran Hidup

Pelajaran hidup ? banyak orang mengartikanya sebagai pengalaman. Ya mungkin itu adalah arti awamnya dan aku disini ingin membagi makna pelajaran hidup dari mendaki gunung. Karena mendaki gunung adalah sebuah pelajaran hidup bagi saya.

1. Kekompakan
sebagai makhluk sosial, manusia selalu membutuhkan manusia yang lain (zoon politicon) dan ketika mendaki gunung biasanya dibentuk sebuah tim pendakian. Kesuksesan mencapai puncak, kepuasan masing masing individu, dan keselamatan ditentukan oleh kekompakan sebuah tim.

2. Perjuangan
mendaki gunung bukan hanya jalan kaki biasa, tapi ada pelajaran sebuah perjuangan di dalamnya. Yaitu perjuangan untuk mencapai puncak/tujuan kita dalam pendakian. (quotenya bu ratna ketika penmas)

3. Mensyukuri, menikmati, mengagumi kebesaran-Nya
kita hanyalah sebagian kecil dari ciptanya yang lebih besar, gunung. dan dunung hanyalah sebagian kecil dari ciptaanya yang lain. Di sana kita merasa kecil tak berarti, dan peralatan yang kita bawapun hanyalah sebagai alat pembantu.

4. Pendidikan karakter
aku sebagai sispala merasakan yang dinamakan pendidikan karakter ketika mendaki gunung. Pendidikan karakter tidak semata mata hanya diberikan ketika kegiatan formal di kelas, tapi dengan kegiatan mendaki, sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan karakter. Dan tentunya menjadi karakter yang lebih baik dan diterima di masyarakat.

5. Optimis
Ketika mendaki kita dididik untuk jangan mudah mengeluh. Karena jika mengeluh akan semakin sulit mengejar tujuan (puncak) dan akan menghilangkan semangat perjuangan. Maka sikap optimis ini akan muncul ketika kita mendaki gunung, entah bagaimana wujud, cara dan waktunya.

Berdasarkan pengalaman : saat mendaki gunung kamu akan tahu bagaimana sifat aslimu sebenarnya, ketika menghadapi alam bersama tim mu. Egois, pesimis, optimis, care, dsb akan terbuka ketika kamu naik gunung atau melakukan kegiatan outdoor lainya. Kegiatan outdoor seperti naik gunung akan menguji seberapa pedulikah kamu dengan teman teman satu timmu.
Sifat kepedulian yang terbentuk dari naik gunung akan mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.

Selasa, 25 Oktober 2011

Because It's There

George L. Mallory : " Because It's There"
Sebuah jawaban simple yang dilontarkan oleh seorang pendaki legendaris, ketika ditanya alasanya mendaki Everest.
Ya mungkin itu hanya sebuah kalimat sederhana, namun di balik "because it's there" terdapat makna luas.
 Bukan hanya ketika mendaki gunung, namun kalimat ini dapat diterapkan di semua tempat dan semua kegiatan.
Mulai dari :
  
Di tepi pantai
sampai seperti terbang di atas awan ketika :

Di Puncak gunung

Menikmati hangatnya  :
masak sup
dan :
makan nasi kaleng
Semua dilakukan bersama sama. Saling membantu satu sama lain dengan keikhlasan dan keceriaan yang selalu mendampingi.
Karena kita telah menjadi keluarga :

VACHERA
SMADA 013
Dan aku pun menangkap sebuah pencerahan :
A : "mengapa kamu naik gunung, mengapa kamu pergi ke pantai, mengapa kamu berpetualang, mengapa  kamu manjat tebing, mengapa , mengapa..... ?
B : "BECAUSE IT'S THERE"
ya, karena tujuan saya ada di sana. Alasan saya ada disana. Karena itu ada disana, saya ingin ke sana.


Inspired : Kaskus/OANC